Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Yeni Rostikawati, M.Pd.

Artikel Umum

PERBEDAAN RAGAM BAHASA MASYARAKAT YANG DIPENGARUHI OLEH IDENTITAS SOSIAL

Dipublikasikan pada : 27 Oktober 2014. Kategori : .
  1. Pendahuluan

Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang mempersatukan masyarakat Indonesia. Bahasa persatuan mutlak ada karena masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang memiliki keragaman budaya dan bahasa. Keragaman budaya dan bahasa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu faktor identitas sosial masyarakat seperti perbedaan status, ekonomi, pendidikan, kedudukan, dll. Dalam kehidupan bermasayarakat, manusia berperan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia perlu berinteraksi dengan manusia lain. Dalam interaksi, manusia menggunakan bahasa agar dapat menyampaikan apa yang mereka maksudkan. Bahasa tersebut dapat dipergunakan untuk menyampaikan gagasan, ide, keinginan, perasan, atau pengalaman kepada orang lain.

Hal ini dapat dikatakan bahwa bahasa akan mempunyai variasi-variasi sesuai kelompok penuturnya. Variasi tersebut dikenal dengan ragam bahasa atau variasi bahasa. Variasi bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Variasi bahasa ini ada dua pandangan, variasi dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa dan keragaman fungsi bahasa. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa.

Ragam bahasa Indonesia yang digunakan oleh masyarakat yang tinggal di lingkungan terminal tentu saja akan berbeda dengan ragam bahasa masyarakat yang hidup di lingkungan perumahan, ragam bahasa guru pasti berbeda dengan ragam bahasa pedagang, atau ragam bahasa tokoh-tokoh masyarakat akan berbeda dengan ragam bahasa masyarakat biasa, begitu pun ragam bahasa orang-orang yang memiliki tingkat perekonomian rendah umumnya berbeda dengan ragam bahasa orang-orang kaya. Bangsa Indonesia pada zaman sekarang memang sudah tidak mengenal kasta, namun dengan adanya ragam tersebut sedikitnya memberi gambaran pada kita bahwa “kasta bahasa” masih ada. Simpulan tersebut berlandasakan pada pernyataan Chaer (2004: 39) yang menyatakan bahwa bahasa pun ada hubungannya dengan tingkatan sosial di dalam masyarakat. Adanya tingkatan sosial dalam masyarakat dapat dilihat dari dua segi: pertama, dari segi kebangsawanan, kalau ada; dan kedua, dari kedudukan sosial yang ditandai dengan tingkatan pendidikan dan keadaan perekonomian yang dimiliki. Biasanya yang memiliki pendidikan lebih baik memperoleh kemungkinan untuk memperoleh taraf perekonomian yang lebih baik pula. Tetapi ini tidak mutlak. Bisa saja taraf pendidikannya lebih baik, namun, taraf perekonomiannya kurang baik. Sebaliknya, yang memiliki taraf pendidikan kurang, tetapi memiliki taraf perekonomian yang baik.

Oleh karena itu, dalam jurnal ini penulis akan mencoba membuktikan adanya perbedaan ragam bahasa dalam masyarakat yang dipengaruhi oleh identitas sosial, dengan menganalisis tuturan seorang tokoh agama yang berasal dari Desa Bendungan, Kec. Pagaden, Kab. Subang.

Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa identitas sosial yang disandang masyarakat berpengaruh terhadap ragam bahasa mereka masing-masing. Khususnya dalam jurnal ini lebih mengetahui pengaruh kedudukan yang notabene paham akan ajaran Islam juga, terhadap ragam bahasa seseorang.

 

  1. Metode Penelitian

Metode pengambilan data yang digunakan adalah metode kuantitatif menggunakan teknik pengambilan data melalui wawancara, kajian pustaka, dan pengamatan peneliti yang terjun langsung ke lapangan dan berinteraksi dengan masyarakat secara alami. Percakapan yang berlangsung alami direkam dengan tanpa diketahui oleh narasumber. Kemudian data yang telah diperoleh dikaji dengan salah satu pendekatan ilmu sosiolinguistik, khususnya tentang pengaruh identitas sosial masyarakat terhadap kekayaan ragam bahasa Indonesia.

Sampel yang diambil merupakan objek penelitian tunggal yaitu salah satu tokoh masyarakat dan tokoh agama dan orang yang disegani oleh masyarakat. Oleh karena itu, untuk lebih memahami kebudayaan masyarakat Desa tersebut, penulis mewawancarai seorang narasumber yaitu Ahmad Fuadin alias “Fu’ad”. Ia adalah anak kedua terakhir Bpk. Nasrulloh. Responden terakhir ini merupakan “responden penjelas” yang memberikan informasi seputar adat kebudayaan masyarakat Desa Bendungan, Kec. Pagaden, Kab. Subang.

Pengambilan data dilakukan di daerah Subang, tepatnya di Desa Bendungan, Kec. Pagaden, Kab. Subang. Pengambilan data ini tidak melalui wawancara secara terstruktur, melainkan dengan pengamatan oleh peneliti di lapangan dan berinteraksi langsung secara alami dengan masyarakat setempat sambil direkam.

 

 

  1. Hasil dan Pembahasan
  2. Landasan Teori

Sosiolinguistik merupakan ilmu antardisiplin antara sosiologi dan linguistik, dua bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan sangat erat. Sosiologi berusaha mengetahui bagaimana masyarakat itu terjadi, berlangsung, dan tetap ada. Dengan mempelajari lembaga-lembaga sosial dan segala masalah sosial dalam suatu masyarakat, akan diketahui cara-cara manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya, bagaimana mereka bersosialisasi, dan menempatkan diri dalam tempatnya masing-masing di dalam masyarakat. Sedangkan linguistik adalah bidang ilmu yang mempelajari bahasa, atau bidang ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat (Abdul Chaer, 2004). Adapun pendapat Ohoiwutun (2007) mengenai sosiolinguistik dijelaskan bahwa ilmu sosiolinguistik bersifat interdisipliner, yaitu gabungan dari sosio-(logi) dan linguistik. J.A. Fishman mengatakan bahwa “ilmu ini meneliti interaksi antara dua aspek tingkah laku manusia: penggunaan bahasa dan organisasi tingkah laku sosial”.

Dari beberapa definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sosiolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang bersifat interdisipliner dengan ilmu sosiologi, dengan objek penelitian hubungan antara bahasa dengan faktor-faktor sosial di dalam suatu masyarakat tutur.

Telah dipaparkan di atas bahwa pokok pembicaraan sosiolinguistik adalah hubungan antara bahasa dengan penggunaannya di dalam masyarakat. Hubungan tersebut terjadi antara bentuk-bentuk bahasa tertentu, yang disebut variasi, ragam bahasa atau dialek dengan penggunaannya untuk fungsi-fungsi tertentu dalam masyarakat. Atau pun barangkali ada unsur-unsur dalam setiap bahasa yang mencerminkan karakteristik sosial pembicara, pendengar atau hubungan di antara mereka. Akibatnya, ujaran yang mengandung unsur-unsur itu memberitahu pendengar bagaimana pembicara memandang karakteristik ini, dan ia akan dianggap melanggar norma yang mengatur ujaran jika ia menggunakan unsur-unsur yang menunjukkan karakteristik yang salah (Hudson, disadur oleh Suryatin, 1998: 99).

Bahasa ternyata ada hubungan dengan tingkatan sosial di dalam masyarakat. Adanya tingkatan sosial dalam masyarakat dapat dilihat dari dua segi: pertama, dari segi kebangsawanan, kalau ada; dan kedua, dari kedudukan sosial yang ditandai dengan tingkatan pendidikan dan keadaan perekonomian yang dimiliki. Biasanya yang memiliki pendidikan lebih baik memperoleh kemungkinan untuk memperoleh taraf perekonomian yang lebih baik pula. Tetapi ini tidak mutlak. Bisa saja taraf pendidikannya lebih baik, namun, taraf perekonomiannya kurang baik. Sebaliknya, yang memiliki taraf pendidikan kurang, tetapi memiliki taraf perekonomian yang baik (Abdul Chaer 2004: 39).

Menurut Hudson (disadur oleh Suryatin, 1998: 100), ujaran juga dapat mencerminkan hubungan sosial antara pembicara dan lawan bicara, terutama “kekuasaan” dan “solidaritas” yang terwujud dalam hubungan itu. Kekuasaan dapat dipahami dengan mudah, tetapi solidaritas itu sulit didefinisikan. Solidaritas menyangkut jarak sosial di antara individu-individu-berapa banyak pengalaman yang mereka miliki, berapa banyak karakteristik sosial yang mereka punyai (agama, jenis kelamin, usia, tempat kelahiran, suku, pekerjaan, mint dan lain-lain), seberapa jauh mereka siap berbagai keakraban dan lain-lain. Penelitian tentang isyarat dalam kekuasaan dan solidaritas ini telah membuktikan dua kesemestaan bahasa. Pertama, setiap bahasa diperkirakan memiliki cara tertentu untuk menunjukkan perbedaan dalam kekuasaan atau solidaritas atau dalam keduanya. Perbedaan ini dapat dijelaskan dengan mengacu kepada pentingnya kekuasaan dan solidaritas itu diperlihatkan dalam bentuk-bentuk bahasa yang berbeda, maka bentuk yang mengungkapkan solidaritas yang tinggi juga mengungkapkan kekuasaan yang besar di pihak pembicara dan sebaliknya. Menurut Brown & Ford dalam Hudson (disadur oleh Suryatin, 1998: 101), hubungan antara kekuasaan dan solidaritas ini terbukti universal, dan solidaritas selalu ditentukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan atau kedudukan lebih kuat.

Hudson (disadur oleh Suryatin, 1998: 102) menyatakan bahwa ada satu hal penting yang berkaitan antara tanda-tanda bahasa dalam kekuasaan dan solidaritas. Hal penting tersebut yaitu bahwa tanda-tanda itu seringkali tidak terbatas sebagai pemarkah hubungan antara pembicara dan lawan bicara tatapi juga pemarkah hubungan antara pembicara dan objek lain. Misalnya, jika pembicara memandang lawan bicaranya memiliki kekuasaan yang lebih tinggi atau lebih rendah, maka ia akan menggunakan istilah-istilah tertentu sesuai dengan kekuasaan mereka. Namun, jika pembicara memandang lawan bicaranya termasuk ke dalam pertengahan, maka tidak ada kepastian untuk menyebut lawan bicara itu. Selain itu, juga tidak ada kepastian menenai penggunaan bentuk acuan jika orang yang dibicarakan oleh si pembicara tidak berada di hadapannya. Dari hal tersebut tampak bahwa bahasa seringkali mendorong atau bahkan memaksa kita untuk menentukan hubungan kita dengan apa yang kita bicarakan. Jika kita mengacu kepada seseorang, maka kita menempatkan diri kita dalam hubungan dengan orang itu menurut kekuasaan dan solidaritas ini dapat dipandang sebagai cara untuk menempatkan seorang pembicara dalam dunia sosialnya ketika ia berbicara.

 

  1. Hasil Penelitian Berupa Deskripsi Data Hasil Wawancara

Percakapan berlangsung di halaman rumah. Narasumber bernama Bapak H. Nasrulloh. Beliau merupakan salah satu tokoh agama dan orang yang disegani oleh masyarakat di Desa Bendungan. Latar belakang pendidikan, lulusan sekolah persamaan (paket C);

A : “Pak, di dieu seueur teu pamudana? Asa sepi.”

(“Pak, disini pemudanya banyak? Kok sepi?”)

D : “Loba, sok di ditu tuh, ngarumpul di Karang Taruna.”

(“Banyak, suka berkumpul di Karang Taruna.”)

A : “Seueurna nu kuliah atanapi damel?”

(“Banyaknya yang kuliah atau bekerja?”)

D : “Nu kuliah aya, nu damel aya. Putra bapak ogẻ aya nu kuliah di UPI.”

(“Yang kuliah ada yang bekerja ada. Anak Bapak juga ada yang sedang kuliah di UPI.”)

A : “Oh, geuning! Jurusan naon? Sa-angkatan sareng abdi teu?”

(“Oh, ternyata! Jurusan apa? Seangkatan dengan saya tidak?”)

D : “Tingkat dua ayeuna mah, kitu. Ah, neng bapa mah maksakeun nyakolakeun tẻh, sugan kabiayaan. Ning ieuh panghasilan bapa tina ngamantrian cai, ngan sakieu” (sambil mengeluarkan lembaran kertas berisi rincian gaji).

(“Kalau tidak salah tingkat dua sekarang. Ah, neng bapak memaksakan menyekolahkan anak, mudah-mudahan terbiayai. Coba lihat penghasilan bapak, hanya ini.”)

A : “Alhamdulillah, atuh pa. rejeki mah aya nu ngatur nya pa?”

(“Alhamdulillah, Pak. Rejeki sudah ada yang mengatur, ya Pak!”)

D : “Enya nyaẻta. Bapa mah teu ngarasula boga budak loba ogẻ. Mudah-mudahan wẻ jalujur.”

(Iya. Bapak tidak pernah mengeluh walaupun banyak anak. Mudah-mudahan mereka sukses.)

 

  1. Analisis Data Hasil Wawancara

Mengawali analisis, penulis mencoba menelaah beberapa kalimat yang diucapkan oleh “D” sebagai sumber tuturan yang menjadi objek penelitian. Tuturan yang diucapkan oleh “D” menyiratkan kesan bahwa penuturnya adalah seorang yang bijak dan memiliki kerendahan hati. Hal tersebut tergambar dari penggalan percakapan berikut:

 

D : “Tingkat dua ayeuna mah, kitu. Ah, neng bapa mah maksakeun nyakolakeun tẻh, sugan kabiayaan. Ning ieuh panghasilan bapa tina ngamantrian cai, ngan sakieu” (sambil mengeluarkan lembaran kertas berisi rincian gaji).

(“Kalau tidak salah tingkat dua sekarang. Ah, neng bapak memaksakan menyekolahkan anak, mudah-mudahan terbiayai. Coba lihat penghasilan bapak, hanya ini.”)

 

Kalimat “memaksakan menyekolahkan anak, mudah-mudahan terbiayai” dalam tuturan tersebut menggambarkan bahwa “D” adalah seorang yang rendah hati dan sederhana, karena pada kenyataannya secara ekonomi beliau termasuk kalangan mampu. Kemudian ada pula tuturan yang menjadi ciri kebijaksanaan penutur dalam menyikapi suatu keadaan, seperti dalam tuturan berikut:

 

D : “Enya nyaẻta. Bapa mah teu ngarasula boga budak loba ogẻ. Mudah-mudahan wẻ jalujur.”

(Iya. Bapak tidak pernah mengeluh walaupun banyak anak. Mudah-mudahan mereka sukses.)

 

Kalimat “Bapak tidak pernah mengeluh walaupun banyak anak, mudah-mudahan mereka sukses” memunculkan kesan bahwa “D” adalah orang yang berpandangan bijak terhadap sesuatu hal, menerima takdir yang digariskan Tuhan dan percaya bahwa anak adalah karunia. Mungkin apabila dibandingkan dengan masyarakat yang awam terhadap ajaran agama (Islam), bisa saja hal tersebut disikapi secara berbeda, misalnya dengan banyak mengeluh kurang biaya sedangkan anaknya banyak, atau dengan memiliki anak banyak menjadi alasan untuk tidak menyekolahkan anak sampai jenjang yang lebih tinggi, dan lain sebagainya.

Kemudian, untuk analisis selanjutnya dalam kasus dialog antara “A” dan “D”, terdapat hal-hal yang akan dibahas lebih jauh berkenaan dengan cara berkomunikasi yang dilakukan oleh keduanya, tentunya masih berhubungan dengan pengaruh identitas sosial dan kebudayaan. Dalam Ohoiwutun (2007: 103) terdapat beberapa cara berkomunikasi lintas budaya, salah satunya yaitu mengenai “hal memperhatikan”. Hal memperhatikan disini adalah memperhatikan lawan bicara dalam suatu percakapan. Ohoiwutun menjelaskan bahwa di Indonesia biasanya hal memperhatikan ini dipengaruhi oleh perbedaan status, penutur dari kelompok berstatus lebih rendah cenderung tidak berani menatap muka penutur dari kelompok yang berstatus lebih tinggi baik pada saat berbicara maupun pada saat mendengarkan dengan penuh perhatian.

Nampaknya, pernyataan Ohoiwutun tersebut sesuai dengan cara berkomunikasi yang dilakukan oleh “D”, selama percakapan berlangsung penutur “D” tidak pernah sekalipun melihat wajah lawan bicaranya yaitu “A”. Dalam hal ini, penulis belum dapat menyimpulkan penyebab hal tersebut, apakah karena perbedaan status atau karena hal lain?.

Berdasarkan keterangan salah satu narasumber, penulis mempercayai bahwa cara berkomunikasi yang dilakukan “D” sesuai dengan konsep sosialisme yang mengedepankan penciptaan keharmonisan sosial (Hu, 1944; Goffman, 1959; Matsumoto, 1988; Gu, 1991; Mao, 1994; dalam Aminuddin Azziz, 2008: 19-20). Mengingat bahwa status sosial yang disandang “D” adalah salah seorang tokoh agama di Desa Bendungan tersebut, kemudian norma-norma yang berlaku dalam lingkungan masyarakatnya pun sangat kental dengan budaya Timur yang dipengaruhi norma-norma Islam, sehingga setiap gerak dan kata-kata yang terucap selalu teratur dan santun.

Gaya bicara yang selalu merendah bisa jadi dipengaruhi oleh ajaran Islam yang melarang umatnya bersikap sombong dan membanggakan diri. Hal tersebut senada dengan pernyataan dalam tulisan Masnur Muslih (2007: [online]) bahwa apabila tatacara berbahasa seseorang tidak sesuai dengan norma-norma budaya, maka ia akan mendapatkan nilai negatif, misalnya dituduh sebagai orang yang sombong, angkuh, tak acuh, egois, tidak beradat, bahkan tidak berbudaya,sehingga setiap tuturan yang dilontarkan oleh “D” selalu merendah.

Begitu pun dengan sikap tubuh saat berbicara, sikap penutur (“D”) yang tidak pernah bertatapan muka dengan mitra tutur (“A”) mengindikasikan bahwa hal tersebut dipengaruhi pula oleh norma-norma agama yang melekat dalam masyarakat tersebut. Menurut informasi yang penulis dengar bahwa dalam budaya Timur, menatap wajah lawan bicara saat interaksi berlangsung dinilai kurang sopan.

Sikap tubuh dan kalimat-kalimat pernyataan yang disampaikan oleh “D” seperti yang sudah dipaparkan di atas, menunjukkan bahwa identitas sosial memang sangat bepengaruh terhadap keragaman bahasa dalam masyarakat, termasuk pula sikap tubuh yang ditunjukkan pada saat percakapan berlangsung.

 

  1. Simpulan

Simpulan yang dapat diambil dari paparan analisis di atas bahwa sosiolingistik adalah ilmu yang mempelajari ragam bahasa masyarakat akibat dari adanya perbedaan gejala sosial yang ada.

Adapun hasil dari analisis terhadap tuturan seorang tokoh agama yang berasal dari Desa Bendungan, Kec. Pagaden, Kab. Subang, menunjukkan bahwa ragam bahasa seorang yang memiliki status lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat umumnya, cenderung lebih mengesankan kebijaksanaan dan kedewasaan berpikir. Cara bersikap dan berpikir dewasa itulah yang akhirnya menimbulkan kewibawaan terhadap orang tersebut. Kemudian, pengaruh norma agama yang kuat pun menjadi salah satu faktor yang ikut mempengaruhi perbedaan ragam bahasa dalam masyarakat, misalnya dalam hal pemilihan kosakata yang diungkapkan, seperti salah satu contoh kata yang diungkapkan penutur “D” dalam percakapan yaitu kata “ngarasula/mengeluh” atau ciri khas merendah seperti “maksakeun nyakolakeun/memaksakan menyekolahkan”. Kata-kata tersebut secara sepintas memang tidak ada yang istimewa, namun, mempunyai makna yang “dalam”.

Jadi, adanya teori yang menyatakan bahwa identitas sosial seseorang mempengaruhi keanekaragaman bahasa dalam masyarakat, benar adanya. Khususnya dalam penelitian ini pengaruh status sosial terhadap ciri khas dan kesan bahasa yang digunakan oleh seorang tokoh agama yang disegani masyarakat, sehingga menambah khazanah bahasa di Negeri Indonesia ini.

 

  1. Referensi

Aziz, E. Aminudin. 2008. Horizon Baru Teori Kesantunan Berbahasa: Membingkai yang Terserak, Menggugat yang Semu, Menuju Universalisme yang Hakiki.Penerbit: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina.2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Hudson, R.A. yang disadur Oleh E. Suryatin. 1998. Sosiolinguistik. Bandung: Geger Sunten.

Muslih, Masnur. 2007. Kesantunan Berbahasa: Sebuah Kajian Sosiolinguistik. (online). Tersedia di : http://www.masnur-muslich.blogspot.com

Ohoiwutun, Paul. 2007. Sosiolinguitik Memahami Bahasa Dalam Konteks Masyarakat dan Kebudayaan. Jakarta : VISIPRO.

Sumarsono. 2007. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Sabda dan Pustaka Pelajar.