Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Yeni Rostikawati, M.Pd.

Artikel Umum

TRANSFORMASI ITU BUKAN ABS “ASAL BAPAK SENANG”

Dipublikasikan pada : 4 Agustus 2014. Kategori : .

Saya sangat terkesan pada istilah “transformasi”. Sebuah istilah yang memiliki makna luar biasa. Secara istilah transformasi berarti perubahan. Jika ada perubahan, baik maju ataupun mundur, berarti mengindikasikan bahwa yang mengalami perubahan tersebut tidak diam, senantiasa bergerak, artinya ada kehidupan. Namun, sebaliknya jika tidak ada perubahan, maka tidak ada kehidupan karena tidak ada pergerakan. Jika saya simpulkan maka “tidak bergerak ke arah perubahan berarti tidak hidup!”.

 

ABS merupakan masalah sosial budaya yang terbentuk sejak puluhan tahun lalu bahkan sejak jaman kerajaan. Rakyat kecil dalam banyak hal lebih banyak menunduk daripada menatap tegak lurus ke depan, terutaama pada pejabat,  sehingga berjalan tidak terarah karena tidak melihat jalan di depan. Demikian sebaliknya, mereka yang sedang menjabat lebih sering melihat ke atas sehingga tidak tahu bahwa kakinya menginjak kepala orang lain.

 

Transformasi yang akan dibicarakan dalam hal ini adalah transformasi ke arah lebih baik tentunya. Dalam dunia pendidikan di Perguruan Tinggi misalnya, mulai banyak PTN yang bertransformasi ke arah BHMN. Sayangnya, perubahan tersebut dinilai setengah-setengah, karena pada kenyataannya masih menuai kontroversi karena ketidakpahaman, terutama masyarakat, terhadap sistem BHMN tersebut. Padahal, jika dipahami dengan benar, konsep perubahan tersebut sangat bagus.

 

Suatu perubahan pasti beriringan dengan konsekuensi. Konsekuensi inilah yang kadang tidak dapat diterima oleh semua pihak. Maka, langkah pertama dalam menuju perubahan suatu lembaga adalah penataan paradigma warga yang terlibat, terutama pemimpinnya sendiri. Seorang pemimpin yang hebat siap manjadi pelopor perubahan, terbuka bagi segala masukan, dan siap melaksanakan perubahan dengan menghadapi segala konsekuensinya. Bukan sebaliknya, dalam melaksanakan perubahan, pemimpin menjadi seorang yang otoriter, sewenang-wenang menjalankan kebijakan, semua bawahan seolah berada di ujung telunjuk atasan. Jika karakter tersebut pada akhirnya yang terbentuk, maka apa kabarnya demokrasi? Jika ada pemimpin yang seperti itu, maka bawahan akan berbuat “Asal Bapak Senang” saja.

 

Budaya ABS ini pada akhirnya menjadi budaya masyarakat Indonesia, baik dalam lingkup dunia industri, pemerintahan, maupun dunia pendidikan. Dalam hal ini saya akan fokus menyorot pada lingkungan pendidikan. Contoh kasus, dalam suatu perguruan tinggi swasta, ada seorang dosen muda yang masih memiliki idealisme tinggi, sehingga apa yang dia lakukan harus sesuai dengan aturan yang berlaku dan disiplin ilmu pengetahuan yang ia pahami. Suatu ketika, dia diberi amanah sebagai penguji skripsi mahasiswa. Dia terima dengan penuh tanggung jawab. Namun, ada hal lain yang membuat dia merasa idealismenya terusik, yaitu ketika ada satu intruksi bahwa pada saat menguji mahasiswa jangan sampai memberikan nilai C. Perintah tersebut tentunya dengan segala alasan yang menitikberatkan pada pertimbangan kemanusiaan, padahal citra baik lembaga pun terancam seandainya banyak mahasiswa yang gagal sidang gara-gara pemberian nilai yang kecil. Dosen muda tersebut tidak dapat berbuat banyak, karena dengan dia mengungkapkan ketidaksetujuan saja dia sudah mendapatkan sanksi sosial dari pimpinan dan rekan yang tidak sejalan, akhirnya dikucilkan dan di blacklist karena dianggap pembangkang terhadap kebijakan lembaga setempat.

 

Nampaknya, kasus-kasus semacam itu yang membiasakan tumbuhnya karakter ABS dalam lingkup dunia kerja, termasuk lingkup dunia pendidikan. Jika karakter tersebut masih saja terbangun dalam diri generasi-generasi penerus, maka fungsi pendidikan nasional sebagai pembentuk watak peserta didik dengan tujuan mengembangkan potensi, kurang terimplementasikan. Fungsi pendidikan nasional tersebut tercantum dalam UU Sisdiknas Pasal 3 Bab II no. 20 tahun 2003 berikut (Kosim, 2012 : 123) :

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

Jika budaya ABS masih saja berkembang, maka potensi luar biasa yang dimiliki oleh setiap individu tidak akan pernah dihargai. Bagaimana transformasi akan terwujud jika pemikiran-pemikiran kritis dapat dipatahkan oleh kesewenang-wenangan pimpinan? Saya memandang bahwa budaya ini muncul dari kegalauan antara tuntutan profesionalisme dengan kebutuhan pribadi yang sifatnya materi. Mengapa berhubungan dengan kebutuhan materi? Setiap individu yang bekerja, baik di dunia industri maupun dunia pendidikan, ujung-ujungnya ingin mendapatkan upah. Upah tersebut diberikan oleh pimpinan sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Pimpinan akan sangat senang terhadap bawahan yang patuh dan mengikuti setiap kebijakan yang dia gulirkan. Bagi sebagian orang, pemikiran kritis hanya akan menghambat karier karena tidak dapat “menjilat” pimpinan, malah sebaliknya dicap oleh pimpinan sebagai seorang yang frontal (walaupun tidak semua berpandangan begitu).

 

Oleh karena itu, transformasi dalam hal apapun harus dibarengi dengan kesiapan para pelaksana perubahannya. Menciptakan iklim budaya yang sehat tanpa virus-virus pengganggu seperti halnya ABS, menyamakan visi dan misi, serta membangun keterbukaan antara pimpinan dengan bawahan, sehingga acara “duduk bersama” yang diwarnai keakraban akan lebih memperkuat ikatan kekekeluargaan. Jika sudah merasa terikat satu sama lain maka akan tercipta satu fondasi yang kuat serta adanya satu visi yaitu maju bersama-sama. Persaingan tidak akan ada, namun pemikiran-pemikiran kritis bebas berkembang dengan dasar bukan untuk saling menjatuhkan tapi untuk saling membangun. Pemimpin tidak lagi memandang bawahan dengan “senang” atau “tidak senang” tetapi dengan “bangga” atau “tidak bangga”, karena dasar kebanggaan muncul dari apresiasi terhadap hasil karya bawahan sebagai hasil optimalisasi pemikiran kritisnya.

 

 

Referensi :

Alwasilah, A. Chaedar. 2008. Pokoknya BHMN : Ayat-Ayat Pendidikan Tinggi. Bandung : CV Lubuk Agung.

 

Kosim, Muhammad. 2012. Pemikiran Pendidikan Islam Ibn Khaldun : Kritis, Humanis, dan Religius. Jakarta : Rineka Cipta.