Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Yeni Rostikawati, M.Pd.

Artikel Umum

IKHTISAR BUKU “MENGAPA SISWA GAGAL” (karya John Holt)

Dipublikasikan pada : 4 Agustus 2014. Kategori : .
  1. IDENTITAS BUKU DAN PENULIS

Buku berjudul Mengapa Siswa Gagal ini diterbitkan pertama kali pada pertengahan 1960-an, buku ini memicu gerakan reformasi dalam bidang pendidikan. Judul asli buku adalah How Children Fail, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Petrus Lakonawa, diterbitkan tahun 2010 oleh Penerbit Erlangga. Pertama kali diterbitkan pada 1964 oleh Pitman Publishing Company, New York. Edisi revisi pertama kali diterbitkan tahun 1982 oleh Merloyd Lawrence, Delta/Seymour Lawrence, New York.

John Holt (1927-1985), salah seorang kritikus pendidikan terkemuka, adalah pengarang 10 buku berpengaruh yang sudah diterjemahkan ke dalam 14 bahasa. Buku tersebut antara lain How Children Fail, How Children Learn, Never Too Late, dan Learning All the Time. Surat-suratnya baru-baru ini telah dikoleksi dan diterbitkan di bawah judul A Life Worth Living. Dikenal sebagai pembaharu yang gigih dan penuh semangat, serta sebagai “suara akal budi yang lembut” (Majalah Life). John Holt menawarkan kepada kita gagasan-gagasan menarik tentang hakikat pembelajaran yang bahkan lebih relevan lagi dewasa ini daripada sebelumnya. Identitas buku setelah diterjemahkan adalah sebagai berikut.

Judul buku                  : Mengapa Siswa Gagal

Penulis                         : John Holt

Pengalih Bahasa          : Petrus lakonawa

Editor                          : Rikard Rahmat

Penerbit                       : Erlangga

Tempat terbit               : Jakarta

Tahun terbit                 : 2010

Jumlah halaman           : 309

 

  1. IKHTISAR BUKU

Dalam pengantar, Holt mengungkapkan bahwa “kebanyakan siswa di sekolah mengalami kegagalan”. Bagi sejumlah besar orang, kegagalan ini diakui dan mutlak. Pada sekolah-sekolah menengah, hampir empat puluh persen siswa yang belajar gagal menyelesaikan studi mereka. Pada tingkatan kuliah, gambarannya menjadi satu berbanding tiga.

Banyak lagi yang lain yang sebutannya saja lulus, namun kenyataan sebetulnya gagal. Para siswa ini menyelesaikan studi semata-mata hanya karena kita terpaksa menaikkan dan meluluskan mereka, mereka tidak peduli apakah mereka memahami segala sesuatu yang diajarkan atau tidak. Kegagalan anak-anak sekolah ini terjadi karena rasa takut, bosan, dan bingung. Anak-anak menjadi bosan karena semua yang diberikan serta diperintahkan kepada mereka di sekolah amat sepele, sederhana, serta menjemukan.tantangannya juga begitu terbatas, tidak sepadan dengan spektrum intelegensi, kemampuan serta talenta mereka.

Mereka bingung karena kebanyakan dari yang mereka terima di sekolah kurang atau tidak bermakna sama sekali. Kenyataan yang mereka alami sering bertentangan secara tajam dengan semua yang telah dikatakan kepada mereka, dan hampir-hampir tidak memiliki hubungan apa pun dengan apa yang sungguh-sungguh mereka ketahui. Dengan kata lain, Holt menganggap bahwa proses pembelajaran jauh dari konteks kehidupan anak-anak yang pada dasarnya anak-anak memiliki tingkat intelegensi tinggi.

Ketika membicarakan intelegensi, biasanya mengacu pada kemampuan untuk memeroleh nilai yang bagus dalam tes tertentu, atau kemampuan berprestasi bagus di sekolah. Intelegensi yang dimaksud adalah suatu gaya hidup, cara berperilaku dalam berbagai situasi, terutama dalam situasi yang baru, asing, dan membingungkan. Orang cerdas, muda atau tua, ketika menghadapi satu persoalan atau situasi baru akan membuka dirinya terhadap situasi dan persoalan itu.

Holt menganggap semua orang yang dilahirkan telah memiliki kecerdasan. Selama tiga tahun (masa bayi) hidupnya mengalami perkembangan pemahaman yang sangat pesat. Mereka belajar banyak pada masa ini. Namun, masa perkembangan tersebut “dirusak” oleh proses perlakuan yang keliru dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah atau di rumah.

Kekeliruan pendidikan yang mengancam kapasitas intelektual dan kreativitas anak diantaranya adalah dengan membuat mereka menjadi takut, takut karena tidak melakukan apa yang diinginkan pihak lain, takut tidak bisa memuaskan pihak lain, takut melakukan kesalahan, takut gagal, dan takut salah. Dengan demikian, kita membuat mereka takut berspekulasi, takut melakukan percobaan, serta takut mencoba hal-hal sulit dan yang asing. Bahkan kalaupun bukan kita yang menciptakan rasa takut pada anak-anak, ketika mereka datang kepada kita dengan rasa takut yang sudah jadi dan telah terbentuk, kita menggunakan rasa takut ini sebagai pegangan untuk memanipulasi mereka serta membuat mereka melakukan apa yang dikehendaki.

Kita pun merusak kecintaan akan belajar tanpa pamrih pada diri anak-anak yang begitu kuat ketika mereka masih kecil. Mendorong dan memaksa mereka agar bekerja atau belajar demi memeroleh ganjaran-ganjaran tertentu. Hal tersebut secara tidak langsung berdampak pada pembentukan karakter anak yang merasa bahwa dirinya lebih baik daripada siapa pun. Kita mendorong mereka untuk merasakan bahwa maksud dan tujuan dari segala sesuatu yang mereka lakukan di sekolah tidak lebih dari sekedar memeroleh angka yang bagus dalam setiap tes atau membuat orang lain terkesan dengan apa yang mereka ketahui. Kita tidak hanya membunuh rasa ingin tahu mereka, tetapi juga perasaan bahwa rasa ingin tahu merupakan sesuatu yang baik dan dapat dibanggakan. Maka, di usia sepuluh tahun kebanyakan anak-anak tidak akan mengajukan pertanyaan dan pandai mencemooh segelintir anak-anak yang mau mengajukan pertanyaan.

Kita mendorong anak-anak agar bertindak bodoh, bukan hanya dengan menakut-nakuti serta membingungkan mereka tetapi juga dengan membuat mereka bosan. Tugas-tugas repetitif yang tidak menarik perhatian atau membangkitkan intelegensi mereka. Seringkali pemikiraan tersebut bermaksud untuk membuat masa depan anak lebih baik, padahal bisa saja sebaliknya. Tugas-tugas banyak yang diberikan kepada mereka akan membuat mereka sedikit berpikir karena kelelahan, bahkan ketika diperiksa masih ada tuntutan yang mengharuskan jawaban benar sehingga mental anak-anak menjadi turun. Mereka tidak berani mengungkapkan pikirannya karena takut salah.

Sekolah cenderung menjadi tempat yang tidak jujur, juga tidak nyaman. Seringkali pengajar tidak jujur mengajari anak-anak. Kita mengajari mereka bukan dengan apa yang kita pikirkan, melainkan apa yang kita rasa harus mereka pikirkan atau apa yang orang rasakan atau katakan harus mereka pikirkan. Hal yang lebih buruk lagi menurut Holt adalah guru tidak jujur tentang dirinya sendiri, tentang rasa takut, keterbatasan-keterbatasan, kelemahan, prasangka, dan juga motif-motif. Guru menampilkan dirinya kepada anak-anak seakan-akan seperti dewa, serba tahu, “mahakuasa”, selalu rasional, pasti adil, dan selalu benar.

Di balik banyak hal yang dilakukan di sekolah terletak beberapa gagasn yang dapat diungkapkan secara garis besar sebagai berikut: 1) dari begitu banyak pengetahuan manusia, ada bagian dan potongan tertentu yang dapat disebut sebagai bagian esensial, yang perlu diketahui oleh setiap orang; 2) seseorang dapat dianggap berpendidikan dan memenuhi syarat untuk hidup secara inteligen dalam dunia modern dewasa ini serta menjadi anggota masyarakat yang berguna bergantung seberapa banyak dia menguasai pengetahuan esensial; 3) karenanya tugas sekolah memasukkan sebanyak mungkin pengetahuan esensial ke dalam pikiran anak-anak. Maka, kita lalu berusaha memasukkan fakta-fakta, rumus-rumus, dan gagasan tertentu ke dalam kepala anak-anak di sekolah, terlepas dari apakah itu menarik bagi mereka atau tidak, dan kalaupun ada banyak hal lain yang jauh lebih menarik dipelajari. Holt beranggapan bahwa gagasan-gagasan tersebut absurd dan omong kosong.

Sekolah mestinya menjadi tempat bagi anak-anak mempelajari apa yang sangat ingin mereka ketahui, alih-alih apa yang guru pikirkan harus mereka lakukan. Anak yang ingin mengetahui sesuatu akan mengingat hal itu dan memanfaatkannya begitu dia memilikinya. Anak-anak yang mempelajari sesuatu karena ingin menyenangkan pihak lain. inilah alasan mengapa anak sangat cepat melupakan segala sesuatu yang mereka pelajari di sekolah, kecuali sebagian kecil.

Bukan materi pelajaran yang membuat suatu pembelajaran lebih berharga daripada yang lain, melainkan semangat dalam melaksanakan pembelajaran itu. Jika seorang anak menjalankan jenis pembelajaran seperti dijalankan kebanyakan anak-anak di sekolah, menelan begitu saja semua yang dikatakan guru, agar dapat dituangkan kembali secara utuh tanpa berpikir ketika guru bertanya. Saat itu anak tersebut sudah membuang-buang waktu atau lebih dari itu, guru yang membuang-buang waktunya. Namun, seorang anak yang belajar secara alamiah, yang mengejar rasa ingin tahunya, akan mengalami perkembangan. Berkembang dalam pengetahuan, kecintaannya dalam pembelajaran, dan dalam kemampuannya untuk belajar.

Dia berada pada jalur yang tepat untuk menjadi orang yang kita butuhkan dalam masyarakat. Sayangnya, sekolah-sekolah dan “akademi” terbaik kita tidak menghasilkan model orang-orang yang nencari dan menemukan makna, kebenaran, serta kesenangan atas apa yang dia lakukan. Selama hidupnya, anak seperti itu akan terus belajar. Setiap pengalaman akan membentuk mentalnya lebih matang dan lebih realistis, sehingga membuat dia lebih mampu bertindak secara realistis, imajinatif, dan konstruktif terhadap pengalaman baru apa saja yang dijumpainya.

Guru tidak bisa melaksanakan pembelajaran yang nyata di sekolah bila terus berpikir tugas dan hak gurulah mengatakan kepada anak-anak apa yang mesti mereka pelajari. Kita tidak bisa tahu, pengetahuan atau pemahaman seperti apa yang paling dibutuhkan seorang anak yang paling sesuai dengan realitasnya. Dalam pembelajaran, anak memiliki hak untuk menentukan hal yang ingin dia pelajari dan yang tidak ingin dipelajari.

Alternatif yang disuguhkan Holt terhadap sekolah adalah menjadikan sekolah dan ruang kelas sebagai tempat yang di dalamnya setiap anak dapat memuaskan rasa ingin tahunya masing-masing dengan cara mengembangkan kemampuan dan talentanya, mengejar minat-minatnya, dan merasakan keragaman serta kekayaan kehidupan yang begitu besar dari orang-orang dewasa serta anak-anak yang lebih tua di sekitarnya. Singkatnya, sekolah harus menjadi pusat aktivitas intelektual, seni, kreativitas, dan olahraga, di dalamnya setiap anak dapat memeroleh apa yang dia inginkan.

 

  1. SIMPULAN

Pemikiran-pemikiran Holt tentang dunia pendidikan, khususnya proses pembelajaran, sangat kritis dan filosofis. Ia meruapakan penggagas “free school” di Amerika. Sekolah-sekolah yang selama ini melakukan pembelajaran dengan kaku dan sangat mendikte siswa sangat ditentang olehnya. Holt begitu mengedepankan hak-hak siswa dalam memilih dan melakukan proses pembelajaran, karena jika siswa belajar atas dasar kebutuhan, maka ilmu pengetahuan yang mereka dapat tidak hanya sebatas konsep yang pasti akan dilupakan setelah keluar kelas atau lingkungan sekolah. Dia sengaja melakukan survei lapangan dan berkunjung ke beberapa sekolah, mulai dari sekolah yang dianggap terbelakang hingga sekolah yang dianggap bagus/favorit.

Pandangan Holt dalam buku ini sangat menekankan pada pembelajaran yang kritis, konstruktivis, dan pembelajaran nyata. Namun, ada sisi kelemahan dalam proses pembelajaran yang digagas Holt, yaitu kurang menanamkan disiplin pada siswa. Terlepas dari kelemahan tersebut, gagasan-gagasan Holt tentang pelaksanaan pendidikan merupakan gagasan yang patut dikembangkan dalam pelaksanaan pendidikan saat ini.