Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Yeni Rostikawati, M.Pd.

Artikel Umum

FILSAFAT NATURALISME DAN IMPLIKASINYA DALAM PENDIDIKAN

Dipublikasikan pada : 4 Agustus 2014. Kategori : .
  1. Pengertian Filsafat Naturalisme

Sebelum membahas lebih jauh tentang salah satu jenis filsafat ini, yaitu filsafat naturalisme, ada sebuah kutipan yang mengantarkan pada sebuah pemahaman tentang sebab munculnya filsafat. Dalam buku Tafsir dikutip dari bukunya Hatta, Alam Pikiran Yunani (2012 : 14), yaitu sebagai berikut :

“Tiap bangsa betapapun biadabnya, mempunyai dongeng takhayul. Ada yang terjadi dari kisah perintang hari, keluar dari mulut orang yang suka bercerita. Ada yang terjadi dari muslihat menakut-nakuti anak supaya ia tidak nakal. Ada pula yang timbul dari keajaiban alam yang menjadi pangkal heran dan takut. Dari itu orang menyangka alam ini penuh oleh dewa-dewa. Lama-kelamaaan timbul berbagai fantasi. Dengan fantasi itu manusia dapat menyatukan ruhnya dengan alam sekitarnya. Orang yang membuat fantasi itu tidak ingin membuktikan kebenaran fantasinya karena kesenangan ruhnya terletak pada fantasinya itu. Tetapi kemudian ada orang yang ingin mengetahuinya lebih jauh. Diantaranya ada orang yang tidak percaya, ada yang bersifat kritis, lama-kalamaan timbul keinginan pada kebenaran.

….”

Dari kutipan tersebut, penulis menyimpulkan bahwa asal-muasal munculnya filsafat dari pemikiran kritis manusia terhadap cerita, kejadian yang dialami, atau alam sekitarnya. Pemikiran tersebut berbeda-beda tiap manusia sehingga tercipta muara-muara pemikiran yang berbeda-beda pula. Ada pemikiran yang bermuara pada ketuhanan “God sense” sehingga jawaban-jawaban atas pikiran kritis yang muncul mengacu pada kebenaran yang bersumber pada Tuhan. Ada pula pemikiran yang bermuara pada Earth centered atau berpatokan pada alam, sehingga sesuatu yang berasal dari alam atau yang sifatnya alami itu dianggap baik. Selain itu, ada pula pemikiran yang bermuara pada Man-centered, beranggapan bahwa sesuatu yang baik itu berdasarkan pengalaman yang sudah dialami atau suatu akibat. Berdasarkan muara-muara pemikiran tersebut, munculah berbagai aliran filsafat yang berpengaruh terhadap cara pandang penganutnya serta berkontribusi besar terhadap gaya hidup serta prinsip hidupnya. Salah satu aliran filsafat tersebut adalah “Filsafat Naturalis” yang berada di area Earth centered.

Naturalisme mempunyai beberapa pengertian, yaitu dari segi bahasa, Naturalisme berasal dari dua kata, “Natural” artinya “Alami” dan “Isme” artinya “Paham”. Aliran naturalisme dapat juga disebut sebagai “Paham Alami”. Maksudnya, bahwa setiap manusia yang terlahir ke bumi ini pada dasarnya memiliki kecenderungan atau pembawaan yang baik dan tak ada seorangpun terlahir dengan pembawaan yang buruk.

Naturalisme merupakan teori yang menerima “nature” (alam) sebagai keseluruhan realitas. Istilah “nature” telah dipakai dalam filsafat dengan bermacam-macam arti, mulai dari dunia fisik yang dapat dilihat oleh manusia, sampai kepada sistem total dari fenomena ruang dan waktu. Natura adalah dunia yang diungkapkan kepada kita oleh sains alam. Istilah naturalisme adalah kebalikan dari istilah supernaturalisme yang mengandung pandangan dualistik terhadap alam dengan adanya kekuatan yang ada (wujud) di atas atau di luar alam (Titus dalam makalah Ahmad, 2012).

Naturalisme lahir pada abad ke-17 dan mengalami perkembangan pada abad ke-18. Naturalisme berkembang dengan cepat di bidang sains. Ia berpandangan bahwa “Learned heavily on the knowledge reported by man’s sense” (pembelajaran yang hebat dalam ilmu pengetahuan berasal dari akal pikiran manusia). Aliran ini dipelopori oleh J.J Rosseau, filsuf Perancis yang hidup pada tahun 1712-1778. Rosseau berpendapat bahwa semua anak baru dilahirkan mempunyai pembawaan baik. Pembawaan baik akan menjadi rusak karena dipengaruhi lingkungan. Pendidikan yang diberikan orang dewasa, justru dapat merusak pembawaan baik anak itu, sehingga aliran ini sering disebut negativisme.

Selain Rosseau, ada juga Plato dan Aristoteles yang menganut paham yang sama. Plato berpandangan (Tafsir, 2012 : 58-59) bahwa ajaran idea yang lepas dari objek, yang berada di alam idea, bukan hasil abstraksi. Idea itu umum, berarti berlaku umum. Dia berpendapat bahwa selain kebenaran yang umum itu ada kebenaran yang khusus, yaitu “kongkretisasi” idea di alam ini. Contoh, “kucing” di alam idea berlaku umum atau kebenaran umum, sedangkan “kucing hitam di rumah saya” adalah kucing yang khusus.

Tokoh lain adalah Aristoteles. Ia termasuk tokoh filsafat yang rasional. Pemikiran filsafatnya lebih maju karena dasar-dasar sains diletakkan. Ia berpendapat bahwa makhluk hidup di dunia ini terdiri atas dua prinsip, yaitu prinsip matter dan form. Matter memberikan substansi sesuatu, sedangkan form memberikan pembungkusnya.

Form disebut juga materi yaitu badan, sedangkan matter disebut juga rohani. Badan material manusia pasti mati, sedangkan yang memberikan bentuk kepada materi adalah jiwa. Jiwa manusia mempunyai beberapa fungsi yaitu memberikan hidup vegetatif (seperti jiwa tumbuh-tumbuhan), lalu memberikan hidup sensitif (seperti jiwa binatang) akhirnya membentuk hidup intelektif. Oleh karena itu jiwa intelektif manusia mempunyai hubungan baik dengan dunia materi maupun dengan dunia rohani, maka Aristoteles membedakan antara bagian akal budi yang pasif dan bagian akal budi yang aktif. Bagian akal budi yang pasif berhubungan dengan materi, dan bagian akal budi yang yang aktif berhubungan dengan rohani. Mayer dalam Tafsir (2012 : 61) memberikan contoh lainnya, kepercayaan pada Tuhan. Tuhan dicapai dengan akal, tetapi ia percaya pada Tuhan. Tuhan itu menurut Aristoteles berhubungan dengan dirinya sendiri. Ia tidak berhubungan (tidak mempedulikan) dengan alam ini. Ia bukan persona.

Berdasarkan beberapa pandangan tersebut, penulis berkesimpulan bahwa filsafat aliran naturalisme ini begitu menjunjung tinggi alam sebagai sarana utama dalam kehidupan manusia, bahkan Tuhan pun diyakini tidak ada hubungannya atau tidak peduli dengan alam. Landasan kebenaran berpatokan pada pemikiran ilmiah yang dapat dibuktikan kebenarannya secara nyata.

 

  1. Implikasi Filsafat Naturalisme dalam Pendidikan

Berbagai aliran filsafat ini memengaruhi berbagai bidang dalam kehidupan termasuk bidang pendidikan. Pendidikan merupakan wadah yang memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter seseorang, baik pendidikan dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan pendidikan formal.

Adapun naturalisme dalam filsafat pendidikan mengajarkan bahwa guru paling alamiah dari seorang anak adalah kedua orang tuanya. Oleh karena itu, pendidikan bagi penganut paham naturalis perlu dimulai jauh hari sebelum proses pendidikan dilaksanakan. Sekolah merupakan dasar utama dalam keberadaan aliran filsafat naturalisme karena belajar merupakan sesuatu yang natural. Paham naturalisme memandang guru tidak mengajar subjek, melainkan mengajar murid.

Spencer (Wakhudin dalam makalah Ahmad, 2012) juga menjelaskan tujuh prinsip dalam proses pendidikan beraliran naturalisme, adalah:

  1. Pendidikan harus menyesuaikan diri dengan alam;
  2. Proses pendidikan harus menyenangkan bagi anak didik;
  3. Pendidikan harus berdasarkan spontanitas dari aktivitas anak;
  4. Memperbanyak ilmu pengetahuan merupakan bagian penting dalam pendidikan;
  5. Pendidikan dimaksudkan untuk membantu perkembangan fisik, sekaligus otak;
  6. Praktik mengajar adalah seni menunda;
  7. Metode instruksi dalam mendidik menggunakan cara induktif; (hukuman dijatuhkan sebagai konsekuensi alam akibat melakukan kesalahan. Kalaupun dilakukan hukuman, hal itu harus dilakukan secara simpatik).

 

Naturalisme memiliki tiga prinsip tentang proses pembelajaran (M.Arifin dan Aminuddin R. dalam makalah Ahmad, 2012), yaitu :

  1. Anak didik belajar melalui pengalamannya sendiri. Kemudian terjadi interaksi antara pengalaman dengan kemampuan pertumbuhan dan pengalaman di dalam dirinya secara alami.
  2. Pendidik hanya menyediakan lingkungan belajar yang menyenangkan. Pendidik berperan sebagai fasilitator, menyediakan lingkungan yang mampu mendorong keberanian anak ke arah pandangan yang positif dan tanggap terhadap kebutuhan untuk memperoleh bimbingan dan sugesti dari pendidik. Serta memberikan tanggung jawab belajar pada diri anak didik sendiri.
  3. Program pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan minat dan bakat dengan menyediakan lingkungan belajar yang beorientasi pada pola belajar anak didik.  Anak didik diberi kesempatan menciptalan lingkungan belajarnya sendiri.

 

Dengan demikian, aliran naturalisme menitikberatkan pada strategi pembelajaran yang bersifat paedosentris, artinya, faktor kemampuan anak didik menjadi pusat kegiatan proses belajar dan mengajar. Nampaknya, paham aliran naturalis, saat ini diterapkan dalam kurikulum baru yang sedang digulirkan oleh pemerintah, yaitu kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013 ini proses pendekatan proses pembelajaran berupa pendekatan saintifik. Intinya, pendekatan tersebut menitikberatkan pada penggalian potensi-potensi siswa atau dikenal dengan istilah student centered, namun tanpa mengabaikan landasan utama pendidikan yaitu prinsip religius. Peran guru selama proses pembelajaran hanya sebagai pembimbing, fasilitator, dan motivator bagi siswa. Dengan pendekatan tersebut, diharapkan dapat terbentuk generasi-generasi berakhlak baik, aktif sebagai pelopor, dan kreatif dalam menciptakan inovasi-inovasi.

Sebelum terlahir kurikulum baru, prinsip naturalis ini sebetulnya sudah berimplikasi dalam pendidikan, namun hanya sebatas pendidikan di luar negeri. Seperti halnya Bobby The Potter yang mencetuskan model pendidikan Quantum Learning. Ia menjadikan alam sebagai tempat pembelajaran. Peserta didik dengan bebas mengeksplorasi apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan di alam. Guru menempatkan dirinya sebagai mitra peserta didik dalam berdiskusi menyelesaikan problem yang ditemukan di alam. Model pendidikan seperti itu sangat cocok diimplementasikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada khususnya.

 

REFERENSI :

Barnadib, Imam. 1997. Filsafat Pendidikan, Sistem, dan Metode. Yogyakarta : Andi Offest.

Tafsir, Ahmad. 2012. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra. Bandung : Rosda.

Referensi bacaan online :

Ahmad. 2012. “Makalah tentang Filsafat Naturalisme”. Tersedia dalam http://ahmad-scr.blogspot.com/2012/11/makalah-tentang-filsafat-naturalisme.html.

Mahfuzh, Hakiki. 2012. “Filsafat Pendidikan Naturalisme, Teori, Implikasi, dan Aplikasinya dalam Pendidikan Islam”. Tersedia dalam http://sekitar-pendidikan.blogspot.com/2012/10/filsafat-pendidikan-naturalisme-teori.html.